Kamis, 27 September 2012

MANUSIA DAN PENDIDIKAN (FUNGSI PENDIDIKAN DALAM KEHIDUPAN MANUSIA)



MANUSIA DAN PENDIDIKAN
(Fungsi Pendidikan dalam Kehidupan Manusia)

MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
“Filsafat Pendidikan Islam”




Disusun oleh :
MAD SA’I
F05411121


Dosen Pembimbing :
Dr. Phil. Khoirun Niam


PROGRAM PASCA SARJANA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2012
A.    Pandahuluan
Manusia adalah makhluk yang paling unik dibandingkan dengan makhluk lainnya, sehingga sangat menarik untuk dikaji. Disadari ataupun tidak kita seringkali mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar seperti “apakah tujuan hidup kita?”. Pertanyaan ini biasanya disebut dengan pertanyaan eksistensial. Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada beberapa cara yang dapat ditempuh baik melalui dogma-dogma agama yang tertuang dalam teks-teks suci kegamaan maupun melalui metode ilmiah atau biasa kita sebut dengan sains atau kita melakukan penalaran filsafatis.
Bila kita mencari jawabannya melalui dogma-dogma agama maka jalan ini tidak akan membawa pada kepuasan intelektual karena Religions way of knowledge yang seringkali tidak menggunakan argumentasi yang kritis disamping dominannya klaim kebenaran (truth claim) apalagi bila kita dihadapkan dengan pluralitas paham keagamaan, maka hal ini akan membawa kita kepada kebingungan. Sedangkan jika kita melalui jalan sains maka jawaban yang diperoleh adalah jawaban yang positivistik, alih-alih mengungkapkan sisi kemanusiaan kita yang dinamis malah yang terjadi adalah gambaran manusia yang operasionalistik-mekanistik dan ini akan mereduksi kompleksitas dimensi keberadaan manusia. Untuk mengantisipasi kedua hal di atas maka kita dapat menggunakan penalaran filsafatis karena filsafat dapat mengatasi cara berpikir dogmatik dari agama dan cara berpikir positivistik dari sains, dengan tidak menafikan fungsi dari agama dan sains. Agama dan sains dapat dijadikan titik pangkal yang kemudian diperluas dan dielaborasi lanjut dengan pisau filsafat. Walaupun kita menggunakan pisau filsafat ini tidak berarti bahwa kita secara mutlak telah sampai pada gambaran manusia apa adanya. Filsafat tidak bertendensi untuk mencari jawaban final tetapi untuk mencari kemungkinan pertanyaan-pertanyaan baru.
Salah satu titik pangkal (initial point) dari semua pembahasan filsafat adalah pengakuannya akan realitas, tergantung pada aliran filsafat yang bersangkutan apakah realitas yang dimaksud di sini hanyalah realitas material atau juga termasuk realitas ide, abstrak atau yang immaterial. Tapi di sini kita tidak akan mempertajam membahas hal tersebut.
Kita mungkin telah mengetahui apakah secara teoritif ataupun secara intuitif bahwa hal yang paling mendasar dari segala realitas apakah itu diri kita ataupun benda-benda yang ada di sekitar kita atau realitas imajinal yang kita beri pengakuan padanya adalah keberadaan atau eksisteninya. Keberadaan adalah fondasi atau prasyarat dari segala hal yang terjadi dalam realitas. Kalau kita membawanya ke dalam bahasa yang agak religius, keberadaan adalah limpahan anugerah paling awal yang diterima oleh realitas ini sebelum realitas tersebut melakukan atau dikenai kejadian apapun.
B.       Hakikat Manusia
Seperti yang diuraikan sebelumnya bahwa manusia merupakan makhluk yang paling unik jika dibandingkan dengan makhluk lainnya. Ini disebabkan oleh adanya potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Potensi dan kemampuan itulah yang mengantarkannya pada kesempurnaan dan kebahagiaan. Diantara keunikan tersebut ialah sebagaimana yang diungkapkan oleh beberapa tokoh filsafat, yaitu Socrates mengemukakan bahwa pada diri manusia terpendam jawaban mengenai berbagai persoalan dunia. Tetapi seringkali manusia itu tidak menyadari bahwa dalam diri terpendam jawaban-jawaban bagi persoalan yang dipertanyakannya.[1]
Plato juga mengatakan bahwa jiwa manusia adalah entitas non-material yang dapat terpisah dari tubuh. Menurutnya, jiwa itu ada sejak sebelum kelahiran, jiwa itu tidak dapat hancur alias abadi. Lebih jauh dia mengatakan bahwa hakikat manusia ada dua yaitu rasio dan kesenangan (nafsu). Dua unsur yang hakikat ini dijelaskan oleh Plato dengan perumpamaan seseorang yang makan kue atau minum sesuatu. Ini kesenangan, sementara rasionya tahu bahwa makanan dan minuman itu berbahaya baginya. Karena menikmati kelezatan (kesenangan) itu hakikat maka rasiopun juga hakikat. Bila ada konflik batin pada seseorang, pasti terdapat petentangan dua elemen kepribadian pada orang tersebut.[2]
Selain tokoh tersebut di atas, masih banyak tokoh filsafat yang mengemukakan pendapatnya tentang manusia. Di antaranya seperti Rene Descartes[3], John Locke[4], Thomas Hobbes[5], Immanuel Kant[6] dan sebagainya.
Sedangkan manusia dalam pandangan al-Qur’an dapat dijabarkan sebagai berikut, Pertama, manusia mempunyai unsur jasmani (material).[7] Kedua, manusia adalah makhluk berakal yang juga merupakan aspek penting dalam hakikat manusia. Nasution menjelaskan bahwa ada tujuh kata yang digunakan al-qur’an untuk mewakili konsep akal, yaitu kata naz}ara seperti dalam surat Qa>f ayat 6-7, tadabbara seperti dalam surat S}a>d ayat 29, tafakkara seperti dalam surat al-Nahl ayat 68-69, faqiha, tadzakkara, fahima dan ‘aqala. Semua kata-kata itu menunjukkan bahwa al-qur’an mengakui akal adalah aspek penting dalam hakikat manusia.[8] Selanjutnya Abdul Fattah Jalal mengatakan bahwa kata‘aqala di dalam al-qur’an kebanyakan digunakan dalam bentuk fi’il (kata kerja), hanya sedikit dalam bentuk ism (kata benda) itu menunjukkan bahwa pada akal yang penting ialah berfikir bukan akal sebagai otak yang berupa benda.[9]
Ketiga, manusia memiliki ruh atau ruhani. Penjelasan mengenai unsur tersebut ialah terdapat dalam al-qur’an surat al-Hijr ayat 29.[10] Al-Syaibani menyatakan bahwa manusia memiliki tiga potensi yang sama pentingnya yaitu jasmani, akal dan ruh. Muhammad Quthb juga mengatakan mengenai manusia bahwa eksistensi manusia ialah jasmani, akal dan ruh, ketiganya menyusun manusia menjadi satu kesatuan.[11]
Sementara, Quraish Shihab mengatakan bahwa ada tiga kata yang digunakan al-qur’an untuk menunjuk manusia yaitu; Pertama, insa>n, ins atau al-na>s. Kedua, bashar dan ketiga Bani> Adam dan Zuriya Adam.[12] Oleh karenanya, berdasarkan penjelasan sebelumnya dapat kita pahami bahwa manusia adalah makhluk unik dan menarik untuk dikaji karena keberadaannya. Manusia memiliki unsur yang sangat penting dan peotensial untuk dikembangkan. Konsekuensinya ialah pendidikan harus didesain untuk mengembangkan unsure-unsur tersebut.
Adapun pandangan lain menyebutkan bahwa manusia merupakan mesin. Karena manusia bekerja ibaratnya mesin yang dapat mendesain sesuatu dengan baik dan sesuai dengan yang diinginkan serta dapat bekerja dengan lebih cepat.

“When we think of complicated machines these days we think of computers. Few can remain unimpressed by their performance. It is claimed that they can play better chess than we can, reach conclusions more quickly and write poetry with greater facility. Calculations that previously took weeks to work out now take minutes. They can store vast quantities of information and use it in any of these calculations; so that the idea that man is no more than a complex machine seems quite plausible.

This idea, that man is basically an intricate machine, is not recent; it has
been around for some 300 years at least. Man has been seen as consisting of a series of levers, cogs and shafts meshing and moving according to some predetermined end. Thomas Hobbes, an English philosopher, saw the whole of man in mechanical terms. Later, the French writer La Mettrie called one of his works L’Homme machine. He wrote: ‘Let us consider boldly that man is a machine and that in the whole universe there is but a single substance variously modified.’ He believed that human beings were nothing but matter, and thinking and feeling its movements. They are subject to physical laws, so that the study of human nature becomes a branch of physics. If we hold such a mechanistic view, does this mean that we have to give up the idea that there is a mind somewhere inside our body? In general the answer is yes, though some have been less radical by arguing that mind does exist but is a by-product of matter and is still subject to those same physical laws.”[13]

Di samping perumpamaan tersebut, manusia juga diumpamakan sebagai tumbuhan karena manusia mengalami perkembangan dan pertumbuhan layaknya tumbuh-tumbuhan. Perkembangan dan pertumbuhan tersebut tidak hanya pada unsur fisiknya saja, melainkan psikis atau mentalnyapun juga akan mengalami hal yang sama. Lebih luas lagi, manusia akan mengalami perkembangan nilai sesuai dengan perkembangan yang terjadi pada lingkungan dimana ia berada.[14]
Juga, manusia diibaratkan dengan hewan. Secara fisiologi, hewan lebih komplek dibandingkan dengan tumbuhan. Hewan bisa belajar bagaimana mencari makan untuk keberlangsungan hidupnya. Kehidupan hewanpun cukup variatif. Terbukti ketika kita lihat dalam suatu kebun binatang atau lingkungannya, maka pola hidup mereka akan berbeda-beda.[15]
C.    Hakikat Pendidikan
Pendidikan yang dimaksud di sini ialah merupakan upaya sadar yang bertujuan untuk memanusiakan manusia. Sehingga pendidikan merupakan media yang dapat membantu manusia untuk mencapai tujuannya. Dengan pendidikan manusia akan mengetahui hakikat dirinya. Karena dalam pendidikan terdapat nilai-nilai dan konsep-konsep kebenaran dan keberadaan seorang itu sendiri.
Allah telah mendidik dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan alam, tersirat pengertian yang menyatakan bahwa manusia agar tetap memelihara kesucian asma` (pelajaran yang di ajarkan) Tuhan pendidik yang maha tinggi. Tuhan telah menciptakan (alam dan manusia), kemudian menyempurnakan proses penciptaanya. Tuhan telah memberikan batasan (menetapkan aturan-aturan, takaran, ukuran dan sebagainya di alam) dan kemudian memberi pertunjuk terhadap proses penyempurnaan ciptaan tersebut. Jadi dalam pendidikan filsafat Islam, berarti mengembangkan potensi manusiawi di bawah pengaruh hukum-hukum Allah, baik al-Quran maupun Sunnah Allah, dan hal ini akan menghasilkan kebudayaan, yang terus menerus berkembang. Setiap generasi tua mewariskan kebudayaan pada generasi mudanya dan mengarahkannya agar kebudayaan tersebut berkembang. Dalam tujuan secara umum pendidikan Islam membentuk pribadi bahagia di dunia dan akhirat. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu mengerakan perkembangan manusia.
Adapun istilah pendidikan dalam pendidikan Islam pada umumnya mengacu pada al-Tarbiyah, al-Ta'di>b, al-Ta'li>m. Dari ketiga istilah tersebut yang populer di gunakan dalam praktek pendidikan Islam ialah al-Tarbiyah, sedangkan al-Ta'di>b dan al-Ta'li>m jarang sekali digunakan. Padahal kedua istilah tersebut telah digunakan sejak awal pertumbuhan pendidikan Islam.[16] Istilah al-Tarbiyah berasal dari kata Rabb. Walaupun kata ini memiliki banyak arti, akan tetapi pengertian dasarnya menunjukkan makna tumbuh, berkembang, memelihara, merawat, mengatur dan menjaga kelestarian atau ekstiensinnya. Proses pendidikan Islam adalah bersumber pada pendidikan yang di berikan Allah sebagai "pendidik" seluruh ciptaan-Nya, termasuk manusia. Pengertian pendidikan Islam yang dikandungkan dalam al-Tarbiyah, terdiri dari empat unsur pendekatan, yaitu:
1.      Memelihara dan menjaga fitrah anak didik menjelang dewasa (baligh)
2.      Mengembangkan seluruh potensi menuju kesempurnaan.
3.      Mengarahkan seluruh fitrah menuju kesempurnaan.
4.      Melaksanakan pendidikan secara bertahap.[17]
Istilah al-Ta'li>m adalah telah digunakan sejak periode awal pelaksanaan pendidikan Islam. Menurut para ahli, kata ini lebih bersifat universal di banding al-Tarbiyah mupun al-Ta'di>b. Misalnya mengartikan al-Ta'li>m sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahuan pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu. melainkan membawa kaum muslimin kepada nilai pendidikan tazkiyah al-nafs (pensucian diri) dari segala kotoran, sehingga memungkinkannya menerima al-hikmah serta mempelajari segala yang bermanfaat untuk diketahui.[18]
Sedangkan istilah al-Ta'di>b adalah pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan pada diri manusia (peserta didik) tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan. Dengan pendekatan ini, pendidikan akan berfungsi sebagai pembimbing ke arah pengenalan dan pengakuan kepada Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan kepribadiannya.[19]
Dalam kata al-Tarbiyah yang memiliki arti pengasuh, pemeliharaan, dan kasih sayang tidak hanya digunakan untuk manusia, akan tetapi juga digunakan untuk melatih dan memelihara binatang atau makhluk Allah lainnya. Di antara batasan yang sangat variatif tersebut adalah;
1.      Mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya.[20]
2.      Mendefinisikan pendidikan Islam sebagai upaya mengembangkan, mendorong serta mengajak peserta didik hidup lebih dinamis dengan berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia.
3.      Mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidikan terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadiannya yang utama (insan kamil).[21]
4.      Mendefinisikan pendidikan Islam sebagai bimbingan yang diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.

Dalam al-Qur`an ditegaskan bahwa Allah adalah Rabb al-'a>lami>n, artinya adalah pendidik semesta alam dan juga pendidikan bagi manusia. Pengertian tersebut diambil karena kata Rabb dalam arti Tuhan dan Rabb dalam arti pendidik berasal dari asal kata yang sama. Dengan demikian menurut al-Qur’an tersebut alam dan manusia mempunyai sifat tumbuh dan berkembang dan yang mengatur pertumbuhan dan perkembangan tersebut tidak lain kecuali Allah juga. Jadi mendidik dan pendidik pada hakikatmya adalah fungsi Tuhan dan mendidik adalah mengatur serta, mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan alam dan manusia sekaligus. Kenapa kenyataan bahwa pendidik dan mendidik itu menjadi urusan manusia. Dalam pandangan filsafat Islam, sebagai mana ditegaskan dalam Al-Qur’an, bahwa pada hakikatnya manusia adalah "Khalifah Allah di alam semesta ini "Khalifah berarti kuasa atau wakil.[22]
D.    Filsafat dan Teori Pendidikan
Tidak semua masalah kependidikan bisa dipecahkan dengan menggunakan metode ilmiah semata-mata. Banyak diantara masalah-masalah kependidikan tersebut yang merupakan pertanyaan- pertanyaan filosofis, yang memerlukan pendekatan filosofis pula dalam memecahkannya. Analisa filsafat terhadap masalah- masalah kependidikan tersebut, dan atas dasar itu bisa disusun secara sistematis teori-teori pendidikan. Di samping itu jawaban-jawaban yang telah dikemukakan oleh jenis dan aliran fisafat tertentu sepanjang sejarah terhadap problematika pendidikan yang dihadapinya, menunjukan pandangan-pandangan tertentu, yang tentunya juga akan memperkaya teori-teori pendidikan. Dengan demikian, terdapat hubungan fungsional antara filsafat dengan teori pendidikan.
Hubungan fungsional antara filsafat dan teori pendidikan tersebut, secara lebih rinci dapat diuraikan sebagai berikut:
[23]
Pertama; Filsafat, dalam arti analisa filsafat adalah merupakan salah satu cara pendekatan yang digunakan oleh para ahli pendidikan dalam memecahkan problematika pendidikan dan menyusun teori-teori pendidikannya, di samping menggunakan metode-metode ilmiah lainnya. Sementara itu dengan filsafat, sebagai pandangan tertentu terhadap sesuatu obyek, misalnya filsafat idelisme, realisme, materialisme dan sebaginya, akan mewarnai pula pandangan ahli pendidikan tersebut dalam teori-teori pendidikan yang dikembangkannya. Aliran filsafat tertentu terhadap teori-teori pendidikan yang dikembangkan atas dasar aliran filsafat tersebut. Dengan kata lain, teori-teori dan pandangan-pandangan filsafat pendidikan yang dikembangkan oleh fillosof, tentu berdasarkan dan bercorak serta diwarnai oleh pandangan dan aliran filsafat yang dianutnya.
Kedua; Filsafat, juga berfungsi memberikan arah agar teori pendidikan yang telah dikembangkan oleh para ahlinya, yang berdasarkan dan menurut pandangan dan aliran filsafat tertentu, mempunyai relevansi dengan kehidupan nyata.artinya mengarahkan agar teori-teori dan pandangan filsafat pendidikan yang telah dikembangkan tersebut bisa diterapkan dalam praktek kependidikan sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan hidup yang juga berkembang dalam masyarakat. Di samping itu, adalah merupakan kenyataan bahwa setiap masyarakat hidup dengan pandangan filsafat hidupnya sendiri-sendiri yang berbeda antara satu dengan yang lainnya, dan dengan sendirinya akan menyangkut kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Di sinilah letak fungsi filsafat dan filsafat pendidikan dalam memilih dan mengarahkan teori-teori pendidikan dan kalau perlu juga merevisi teori pendidikan tersebut, yang sesuai dan relevan dengan kebutuhan, tujuan dan pandangan hidup dari masyarakat.
Ketiga; Filsafat, termasuk juga filsafat pendidikan, juga mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan atau paedagogik. Suatu praktek kependidikan yang didasarkan dan diarahkan oleh suatu filsafat pendidikan tertentu, akan menghasilkan dan menimbulkan bentuk-bentuk dan gejala-gejalan kependidikan yang tertentu pula. Hal ini adalah data-data kependidikan yang ada dalam suatu masyarakat tertentu. Analisa filsafat berusaha untuk menganalisa dan memberikan arti terhadap data-data kependidikan tersebut, dan untuk selanjutnya menyimpulkan serta dapat disusun teori-teori pendidikan yang realistis dan selanjutnya akan berkembanglah ilmu pendidikan (paedagogik).
Di samping hubungan fungsional tersebut, antara filsafat dan teori pendidikan, juga terdapat hubungan yang bersifat suplementer, sebagaimana dikemukakan oleh Ali Saifullah dalam bukunya “Antara Filsafat dan Pendidikan”, sebagai berikut :
a.       Kegiatan merumuskan dasar-dasar, dan tujuan-tujuan pendidikan, konsep tentang sifat hakikat manusia, serta konsepsi hakikat dan segi-segi pendidikan serta isi moral pendidikannya.
b.      Kegiatan merumuskan sistem atau teori pendidikan (science of education) yang meliputi politik pendidikan, kepemimpinan pendidikan atau organisasi pendidikan, metodologi pendidikan dan pengajaran, termasuk pola-pola akulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan masyarakat dan Negara.
E.     Hubungan Filsafat Manusia dan pendidikan
Manusia disebut “Homo Sapiens”. Artinya, makhluk yang mempunyai kemampuan untuk berilmu pengetahuan. Salah satu insting manusia adalah selalu cenderung ingin mengetahui segala sesuatu disekelilingnya, yang belum diketahuinya. Berawal dari rasa ingin tahu maka timbulah ilmu pengetahuan.
Dalam hidupnya manusia digerakkan sebagian oleh kebutuhan untuk mencapai sesuatu, dan sebagian lagi oleh tanggung jawab sosial dalam masyarakat. Manusia bukan hanya mempunyai kemampuan-kemampuan, tetapi juga mempunyai keterbatasan-keterbatasan, dan juga tidak hanya mempunyai sifat-sifat yang baik, namun juga mempunyai sifat-sifat yang kurang baik.
Menurut pandangan pancasila, manusia mempunyai keinginan untuk mempertahankan hidup dan menjaga kehidupan lebih baik. Ini merupakan naluri yang paling kuat dalam diri manusia. Pancasila sebagai falsafah hidup manusia Indonesia, memberikan pedoman bahwa kehidupan manusia didasarkan atas keselarasan, keserasian, dan keseimbangan, baik dalam hidup manusia sebagai individu, hubungan manusia dengan masyarakat, hubungan manusia dengan alam, hubungan bangsa dengan bangsa, dan hubungan manusia dengan Tuhannya, maupun manusia dalam mengejar kemajuan lahiriah dan kebahagiaan rohaniah.
Tampaklah bahwa manusia itu sangat membutuhkan pendidikan. Karena melalui pendidikan manusia dapat mempunyai kemampuan-kemampuan mengatur dan mengontrol serta menentukan dirinya sendiri. Melalui pendidikan pula perkembangan kepribadian manusia dapat diarahkan kepada yang lebih baik. Dan melalui pendidikan kemampuan tingkah laku manusia dapat didekati dan dianalisis secara murni.[24]
F.     Pandangan Filsafat Tentang Pendidikan
Filsafat pendidikan adalah nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan filsafat yang menjiwai, mendasari, dan memberikan identitas (karakteristik) suatu sistem pendidikan. Filsafat pendidikan adalah jiwa, ruh, dan  kepribadian system kependidikan nasional, karenanya sistem pendidikan nasional wajarlah dijiwai, didasari, dan mencerminkan identitas Pancasila, citra, dan karsa bangsa kita, dan tujuan nasional bangsa kita , atau tujuaan nasional dan cita-cita luhur rakyat Indonesia yang tertulis pada UUD 1945 sebagai perwujudan jiwa dan nilai Pancasila.
Unsur-unsur yang dapat dijadikan tunggak untuk mengembangkan pendidikan lebih lanjut ada 4, antara lain :
1.      Dasar dan Tujuan
      Dasar pendidikan merupakan suatu asas untuk mengembangkan bidang pendidikan dan pembinaan kepribadian, karena pendidikan memerlukan landasan kerja untuk member arah bagi programnya. Asas tersebut juga berfungsi sebagi peraturan yang akan digunakan sebagai pegangan hidup dan pegangan langkah pelaksanaan. Di Indonesia secara formal pendidikan mempunyai dasar yang kuat, yaitu Pancasila. Tujuan pendidikan adalah membawa anak didik agar dapat mandiri dalam hidupnya di tengah-tengah masyarakat. Jadi, dasar dan tujuan pendidikan adalah suatu aktivitas untuk mengembangkan bidang pendidikan menuju terbinanya kepribadian yang tinggisesuai dengan dasar persiapan pendidikan.
2.      Pendidik dan Peserta Didik
      Pendidik adalah individu yang mampu melaksanakan tinakan mendidik dalam satu situasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan. Individu yang mampu  adalah orang dewasa yang sehat jasmani ruhani, mampu berdiri sendiri dan mampu menanggung resiko dari segala perbuatannya. Kesediaan dan kerelaan menerima tanggung jawab harus dimiliki setiap pendidik. Peserta didik adalah adalah anak yang sedang tumbuh dan berkembang, baik fisik maupun mentalnya. Peserta didik memiliki pembawaan, dan potensi yang berbeda-beda. Karena itu pendidik harus mengetahui pembawaan masing-masing anak didiknya agar layanan pendidikan yang diberikan sesuai kedaan masing-masing.
3.      Kurikulum
      Tujuan pendidikan yang ingin dicapai murupakan faktor yang menentukan kurikulum dan isi pendidikan yang diberikan. Tujuan pendidikan dappenglaman bat memengaruhi strategi pemilihan teknik penyajian pendidikan yang diberikan untuk memberikan pengalaman belajar pada anak  didik dalam  mencapai tujuan pendidikan yang sudah dirumuskan. Antara  tujuan dan  program harus serasi.
      Kurikulum tidak hanya menjabarkan serangkaian ilmu pengetahuan yang harus diajarkan oleh pendidik kepada anak didik, tetapi juga semua kegiatan yang bersifat kependidikan yang dipandang mempunyai pengaruh terhadap anak didik cdalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
4.      Sistem Pendidikan Pelajar
      Pendidikan merupakan usaha sadar yang sengaja dan terencana untuk membantu perkembanganpotensi dan kemampuan anakagar bermanfaat bagi kepentingan hidupnya sebagai seorang individu, dan sebagai seorang warga negara/masyarakat, dengan memilih materi strategi kegiatan, dan teknik penilaian yang sesuai. Dengan kata lain, pendidikan dipandang mempunyai peranan yang besar dalam mencapai keberhasilan dalam perkembangan anak didik.
      Pengertian Sistem pendidikan adalah sistem yang dijadikan tolok ukur bagi tingkah laku manusia dalam masyarakat yang mengandung potensi mengendalikan, mengatur, dan mengarahkan, perkembangan masyarakat dalam lapangan pendidikan Oleh karena itu lembaga pendidikan perlu memberikan jawaban yang tepat sehingga kecenderungan sikapm dan berpikir masyarakat tidak terombang-ambing tanpa arah yang jelas. Jadi system pendidikan diperlukan untuk menjawab semua persoalan yang ada, khususnya di bidang kependidikan.
      Dengan demikian, dapat dipahami bahwa filsafat pendidikan merupakan tata pola pikir terhadap permasalahan di bidang pendidikan dan pengajaran yang senantiasa mempunyai hubungan dengan cabang-cabang ilmu pendidikan yang lain yang diperluakan oleh pendidik atau guru sebagai pengajar dalam bidang studi tertentu
G.     Tugas dan Dasar Pendidikan Islam
            Pada hakikatnya, pendidikan Islam adalah suatu proses yang berlangsung secara berkesinambungan Berdasarkan hal ini maka tugas dan fungsi yang perlu diemban oleh pendidikan Islam adalah pendidikan manusia seutuhny dan berlangsung sepajang hayat. Konsep ini bermakna bahwa tugas dan fungsi pendidikan memiliki sasaran pada peserta didik yang senantiasa tumbuh dan berkembang secara dinamis mulai dari kandungan sampai akhir hayatnya. Tugas pendidikan Islam adalah membimbing dan perkembangan peserta didik dari tahap ke tahap kehidupannya sampai mencapai titik kemampuan optimal. Sementara fungsi pendidikan berjalan dengan lancar. Adapun sebagai interaksi antara potensi (memberi dan mengadopsi) antara manusia dan lingkungannya. Dengan proses ini, peserta didik manusia akan menciptakan dan mengembangkan keterampilan yang di perlukan untuk mengubah dan memperbaiki kondisi-kondisi kemanusiaan dan lingkungannya.
H.    Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam
            Sebagai aktivitas yang bergerak dalam proses pembinaan kepribadian muslim, maka pendidikan Islam memerlukan asas atau dasar yang dijadikan landasan kerja. Dengan dasar ini akan memberikan arah bagi pelaksanaan pendidikan yang telah diprogramkan. Dalam kontek ini, dasar yang menjadi acuan pendidikan Islam hendaknya merupakan sumber nilai kebenaran dan kekuatan yang dapat menghantarkan peserta didik ke arah pencapaian pendidikan. Oleh karena itu, dasar yang terpenting dari pendidikan Islam adalah Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah (hadits). Dalam pendidikan Islam, sunnah Rasul mempunyai dua fungsi, yaitu: Menjelaskan sistem pendidikan Islam yang terdapat dalam Al-Qur'an dan menjelaskan hal-hal yang tidak terdapat di dalamnya.
Menyimpulkan metode pendidikan dari kehidupan Rasulullah bersama sahabat, perlakuannya terhadap anak-anak, dan pendidikan keimanan yang pernah dilakukannya.[25] Dalam merumuskan tujuan pendidikan Islam, paling tidak ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
1.      Tujuan dan tugas manusia di muka bumi. baik secara vertikal maupun horizontal. Sifat-sifat manusia tututan masyarakat dan dinamika peradaban
2.      Dimensi-dimensi kehidupan ideal Islam[26]
            Adapun tujuan pendidikan Islam adalah mengembangkan fitrah peserta didik, baik ruh, fisik, kemauan, dan akalnya secara dinamis, sehingga akan terbentuk pribadi yang utuh dan mendukung bagi pelaksanaan fungsinya sebagai khalifah fi al-ardh. Pendekatan tujuan ini merupakan memiliki makna, bahwa upaya pendidikan Islam adalah pembinaan pribadi muslim sejati yang mengabdi dan merealisasikan "kehendak"Tuhan sesuai dengan syariat Islam. serta mengisi tugas kehidupannya di dunia dan menjadikan kehidupan akhirat sebagai tujuan utama pendidikannya.
            Tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia (peserta didik) secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran (intelektual), diri manusia yang rasional, perasaan dan indera. Karena itu, pendidikan hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik, aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah, dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif ; dan mendorong semua aspek tersebut berkembang kearah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir pendidikan Islam terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah, baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia.
I.       KESIMPULAN
            Pendidikan Islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai dengan ideologi Islam. Tugas pendidikan Islam adalah membimbing dan perkembangan peserta didik dari tahap ke tahap kehidupannya sampai mencapai titik kemampuan optimal. Sementara fungsi pendidikan berjalan dengan lancar. Pendidikan Islam memerlukan asas atau dasar yang dijadikan landasan kerja. Dengan dasar ini akan memberikan arah bagi pelaksanaan, pendidikan yang telah di programkan. Tujuan pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia (peserta didik) secara menyeluruh dan seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran (intelektual), diri manusia yang rasional, perasaan dan indera. Karena itu, pendidikan hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik, aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah, dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif dan mendorong semua aspek tersebut berkembang kearah kebaikan dan kesempurnaan.


DAFTAR PUSTAKA


Arifin, M. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1987.

al-Attas, Muhammad Naquid. Konsep Pendidikan. Terj. Haidar Bagit, Bandung: Mizan, 1994.

Idi, Abdullah. Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktik. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011.

I.Lloyd, D. Philosophy and the Teacher. London: Routledge, 2005.

Jalal, Abdul Fattah. Azas-Azas Pendidikan Islam. Bandung: CV. Dipenogoro, 1988.

Marimba, Ahmad D. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al-Ma’arif, 1989.

an-Nahlawi, Abdurrahman. Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam, Bandung: CV. Dipenogoro, 1992.

Nasution, Harun. Akal dan Wahyu dalam Islam. Jakarta: Universitas Indonesia, 1982.

Quthb, Muhammad. Sistem Pendidikan Islam; trj. Salman Harun. Bandung: Al-Ma’arif.

Sanjaya, Wina. Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana, 2008.

Sarwono, Sarlito Wirawan. Berkenalan Dengan Aliran-Aliran dan Tokoh-Tokoh Psikologi. Jakarta: Bulan Bintang, 1978.

Shihab, Quraish. Wawasan al-Qur’an. Bandung: Mizan, 2000.

al-Syaibany, Omar Muhammad Al-Thoumy. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, 1979.

Syalabi, Ahmad. Ta>rihk al-Tarbiyah al-Isla>miyah. Kairo: Al-Kasyaf, 1954.

Tafsir, Ahmad. Filsafat Pendidikan Islam; Integrasi jasmani, Rohani dan Kalbu Memanusiakan Manusia. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010.

Zuhairini, dkk. Filsafat pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 2004.





[1]  Oleh karenanya perlu adanya orang lain yang dapat membantu untuk mengemukakan jawaban-jawaban yang masih terpendam tersebut, lihat pada Sarlito Wirawan Sarwono, Berkenalan Dengan Aliran-Aliran dan Tokoh-Tokoh Psikologi, (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), 30.
[2]  Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam; Integrasi jasmani, Rohani dan Kalbu Memanusiakan Manusia, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010), 9-10.
[3]  Adalah filosof perancis yang hidup pada tahun 1596-1650. Ia amat menekankan rasio pada manusia, sama dengan Plato. Sehingga berpendapat bahwa berpikir itu sangat sentral dalam manusia, manusia menyadari keadaannya karena ia berpikir (cogito ergo sum).
[4]  Filosof Inggris yang hidup pada tahun 1623-1704 dan cukup terkenal dengan teori tabula rasanya, mengatakan bahwa jiwa manusia itu saat dilahirkan laksana kertas bersih kemudian diisi dengan pengalaman-pengalaman yang diperoleh dalam hidupnya. Pengalamanlah yang paling menentukan keadaan seseorang. Menurut paham ini pendidikan sangat berpengaruh pada seseorang.
[5]  Ia adalah tokoh aliran empirisme yang hidup pada 1588-1629 dan terkenal dengan teori “mekanis dalam psikologi”. Dalam teorinya, ia mengatakan bahwa dalam tingkah laku ada dasar dan ada tujuan. Dua motivasi dasar ialah keinginan untuk mendekati dan kecenderungan untuk meninggalkan. Ia juga mengatakan bahwa tujuan tingkah laku adalah untuk kepentingan diri sendiri yang pada hakikatnya semua orang bersifat mementingkan diri sendiri dan dalam memenuhi kepentingan diri sendiri itu justru manusia terpaksa mengakui hak-hak orang lain.
[6]  Filosof dari Jerman yang hidup pada tahun 1724-1804 yang mengatakan bahwa manusia tidak akan mampu mengenali dirinya sendiri dan hanya mengenali dirinya berdasarkan apa yang tampak. Kaitannya dengan pendidikan, ia berpendapat bahwa manusia adalah makhluk rasional, manusia itu bebas bertindak berdasarkan alasan moral dan bertindak bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri. Pendapat ini agak berbeda dengan pendapatnya Thomas Hobbes yang seakan dalam tindakannya, manusia hanya mementingkan dirinya sendiri. Padahal dalam tindakannya, manusia memiliki alas an-alasan yang bersinggungan dengan kehidupan, termasuk manusia. Ahmad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam; Integrasi Jasmani, Rohani dan Kalbu Memanusiakan Manusia., 12.
[7]  Hal ini tertuang dalam QS. al-Qas}a>s} ayat 77 dan QS. al-‘A’ra>f ayat 31 yang mengindikasikan bahwa manusia memiliki unsur jasmani karena masih membutuhkan kebutuhan materi.
[8][8]  Harun Nasution, Akal dan Wahyu dalam Islam, (Jakarta: Universitas Indonesia, 1982), 39-48.
[9]  Abdul Fattah Jalal, Azas-azas Pendidikan Islam,trj. Herry Noer (Bandung: Diponegoro, 1988), 57-58.
[10]  Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.
[11]  Muhammad Quthb, Sistem Pendidikan Islam; trj. Salman Harun, (Bandung: Al-Ma’arif), 31.
[12] Menurutnya, insan terambil dari kata uns yang berarti jinak, harmonis, dan tampak. Istilah ini lebih tepat dibandingkan dengan pendapat yang mengatakan bahwa insan terambil dari kata nasiya yang berarti lupa atau nasa yang berarti guncang. Lihat; Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 2000), 278-280. Kata ini juga sering dihadapkan dengan kata jin atau jan, yaitu makhluk yang tidak tampak, sehingga menurutnya kata insane menunjukkan manusia sebagai totalitas (jiwa dan raga). Sedangkan kata basyar diambil dari akar kata yang pada mulanya berarti penampakan sesuatu dengan baik dan indah. Dari akar kata yang sama muncul kata basyarah yang berarti kulit. Manusi dinamai basyar karena kulitnya tampak jelas dan berbeda dengan kulit binatang. Di bagian lain dari al-qur’an disebutkan bahwa kata basyar digunakan untuk menunjukkan proses kejadian manusia sebagai basyar melalui tahap-tahap hingga mencapai kedewasaan. Di sini tampak bahwa kata basyar dikaitkan dengan kedewasaan dalam kehidupan manusia yang menjadikannya mampu memikul tanggung jawab, sebab itu pula tugas kekhalifahan dipikulkan kepada basyar. Adapun kata bani Adam dan zuriya Adam maksudnya ialah manusia itu ialah turunan Adam.
[13]  D.I.Lloyd, Philosophy and the Teacher, (London: Routledge, 2005), 29-31.
[14]  Ibid., 31-32.
[15]  Whereas man is never talked of as being a plant but rather like one, he is regarded as being an animal. One abttity which animals possess which plants do not, is the ability to learn. They can learn anything from how to find food to how to perform circus tricks. Their physiological makeup is more complex than that of a plant. Pigeons learn how to discriminate between shades of colours, rats find their way through mazes, dogs wheel prams in circuses and chimpanzees co-operate with tea firms to make TV advertisements. In 32 D.I.LLOYD recent years psychologists have studied the behaviour of animals and the abilities that they can acquire. It has been felt that they can throw a good deal of light on the way that human beings learn. In zoology the cries of birds, the dances of bees, the instincts of seals have been the subjects of observation.” Ibid., 32-33.
[16]  Ahmad Syalabi, Tarihk Al-Tarbiyah Al-Islamiyat, (Kairo: Al-Kasyaf, 1954), 21-23.
[17] Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Dipenogoro, 1992), 31.
[18]  Abdul Fattah Jalal, Azas-azas Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Dipenogoro, 1988), 29-30.
[19]  Muhammad Naquid Al-Attas, Konsep Pendidikan. Terj. Haidar Bagit, (Bandung: Mizan, 1994), 63-64.
[20]  Omar Muhammad Al-Thoumy Al-Syaibany, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), 99.
[21]  Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung: Al-Ma’arif, 1989), 19.
[22]  Zuhairini, dkk. Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), 12.
[23]  Kaitannya dengan pendidikan, filsafat memiliki peran yang sangat penting. Dalam upaya mengembangkan pendidikan, utamanya dalam hal kurikulum landasan filosofis menempati urutan pertama. Artinya ialah landasan tersebut merupakan landasan utama yang menjadi ukuran dan acuan bagi landasan-landasan yang lain. Hal ini disebabkan oleh empat fungsi filsafat dalam proses pengembangan kurikulum, yaitu Pertama, filsafat dapat menentukan arah dan tujuan pendidikan. Kedua, filsafat dapat menentukan isi atau materi pelajaran yang harus diberikan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Ketiag, filsafat dapat menetukan strategi atau cara pencapaian tujuan. Dan Keempat, melalui filsafat dapat ditentukan bagaimana menentukan tolok ukur keberhasilan proses pendidikan, lihat pada Wina Sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran: Teori dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), (Jakarta: Kencana, 2008), 42-43. Lihat pula pada Abdullah Idi, Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktik, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), 88.
[25]  An-Nahlawi, Abdurrahman, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Islam, (Bandung: CV. Dipenogoro, 1992), 47.
[26]   M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1987), 120.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar